Apa Itu Formalin?

Apa itu Formalin ?
Formalin adalah nama dagang larutan formaldehida dalam air dengan kadar 36 – 40%, tidak berwarna dan baunya sangat menusuk dan biasanya ditambah methanol hingga 15% sebagai stabilisator (Anonimous 2006a). Di pasaran, formalin dapat diperoleh dalam bentuk sudah diencerkan, yaitu dengan kadar formaldehida 30, 20 dan 10%. Disamping dalam bentuk cairan, formalin dapat diperoleh dalam bentuk tablet yang masing-masing mempunyai berat 5 gram (Winarno 2004).
Formaldehida pertama kali disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksander Butlerov pada tahun 1859 namun diidentifikasi lebih lanjut oleh August Wilhelm von Hofmann pada tahun 1867 (Anonimous 2006b).

Formaldehida mudah larut dalam air sampai kadar 55%, sangat reaktif dalam suasana alkalis serta bersifat sebagai zat pereduksi kuat, mudah menguap karena titik didihnya yaitU -21°C. secara alami formaldehida juga dapat ditemui dalam asap pada proses pembakaran makanan yang bercampur fenol, keton dan resin (Winarno 2004).
Menurut Anonimous (2005e), manfaat formalin di bidang industri non pangan sangat beragam, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih : lantai, gudang ,
pakaian dan kapal
2. Pembasmi lalat dan serangga lainnya
3. Bahan pembuat Sutra buatan, Zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak
4. Dalam dunia Fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan
kertas
5. Bahan pembentuk pupuk berupa Urea
6. Bahan pembuatan produk parfum
7. Bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku
8. Pencegah korosi untuk sumur minyak
9. Bahan untuk isulasi busa
10. Bahan perekat untuk produk kayu lapis (playwood)
11. Dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1 persen ) digunakan sebagai
pengawet, Untuk berbagai barang konsumen, seperti pembersi rumah
tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, Shampo mobil, lilin
dan karpet
12. Pengawet mayat dan organ.
Formalin yang bersifat racun tidak termasuk ke dalam daftar bahan tambahan makanan pada Codex Alimentarius maupun yang dikeluarkan oleh Depkes, sehingga penggunaan formalin pada makanan dilarang (Winarno 2004).
Mengapa Menggunakan Formalin?
Penggunaan formalin dimaksudkan untuk memperpanjang umur penyimpanan, karena formalin adalah senyawa antimikroba serbaguna yang dapat membunuh bakteri, jamur bahkan virus. Selain itu interaksi antara formaldehid dengan protein dalam pangan menghasilkan tekstur yang tidak rapuh dan untuk beberapa produk pangan seperti tahu, mie basah, ikan segar, memang dikehendaki oleh konsumen (Dewanti 2006). Bau yang ditimbulkan oleh formalin menyebabkan lalat tidak mau hinggap. Selain itu ikan yang disiram formalin terlihat lebih bersih, sisik-sisiknya mengkilat dan dagingnya kenyal.
Penyimpanan yang lebih lama ini sangat menguntungkan bagi produsen maupun pedagang. Ayam, ikan, tahu atau makanan lain dapat disimpan dalam jangka waktu relatif lebih lama dan tidak mudah rusak tanpa harus di masukkan ke dalam lemari pendingin. Setidaknya jika barang yang tidak laku dijual hari ini, ayam atau tahu yang telah diformalin dapat dijual kembali keesokan harinya dan tetap terlihat segar.
Alasan lain penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan adalah tingginya harga solar dan mahalnya harga es balok untuk mengawetkan ikan saat nelayan melaut.

Penggunaan Formalin dalam Produk Pangan
Penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) atau food additives sudah sangat meluas. Hampir semua industri pangan, baik industri besar maupun industri rumah tangga, dipastikan menggunakan BTP. Penggunaan BTP memang tidak dilarang asalkan bahan tersebut benar-benar aman bagi kesehatan manusia dan dalam dosis yang tepat.

Pengawet merupakan salah satu jenis BTP yang paling banyak digunakan oleh produsen makanan. Penggunaan BTP dimaksudkan untuk mempertahankan kesegaran atau agar produk tahan lama, serta untuk memperbaiki rasa, aroma, penampilan fisik, dan warna. Beberapa pengawet yang termasuk antioksidan berfungsi mencegah makanan menjadi tengik akibat perubahan kimiawi. Namun, karena kurangnya pengetahuan tentang bahaya penggunaan BTP, para produsen makanan menggunakan BTP (pengawet) secara berlebihan.

Bahan Tambahan yang Dilarang Digunakan dalam Makanan antara lain :
1. Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya.
2. Asam salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its Salt).
3. Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC).
4. Dulsin (Dulcin).
5. Kalium Klorat (Potassium Chlorate).
6. Khloramfenikol (Chloramphenicol).
7. Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated Vegetable Oils).
8. Nitrofurazon (Nitrofurazone).
9. Formalin (Formaldehyde).
10. Kalium Bromat (Potassium Bromate).

Formalin merupakan salah satu pengawet yang akhir-akhir ini banyak digunakan dalam makanan, padahal jenis pengawet tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. Formalin merupakan larutan tidak berwarna, berbau tajam, mengandung formaldehid sekitar 37% dalam air, biasanya ditambahkan metanol 10-15%.

Formalin mempunyai banyak nama atau sinonim, seperti formol, morbicid, methanal, formic aldehyde, methyl oxide, oxymethylene, methyl aldehyde, oxomethane, formoform, formalith, oxomethane, karsan, methylene glycol, paraforin, poly-oxymethylene glycols, superlysoform, tetraoxymethylene dan trioxane.

Sifat Formalin

Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat unsur kimia dari formalin maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal . Selain itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet.

Formaldehida membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri dehidrasi (kekurangan air), sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk lapisan baru di permukaan. Artinya, formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya, supaya tahan terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan serangan bakteri dengan cara membunuh dan tidak bereaksi dengan bahan yang dilindungi, maka formaldehida akan bereaksi secara kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan berikutnya.

Melihat sifatnya, formalin juga sudah tentu akan menyerang protein yang banyak terdapat di dalam tubuh  manusia seperti pada lambung. Terlebih, bila formalin yang masuk ke tubuh itu memiliki dosis tinggi.

Masalahnya, sebagai bahan yang digunakan hanya untuk mengawetkan makanan, dosis formalin yang digunakan pun akan rendah. Sehingga efek samping dari mengkonsumsi makanan berformalin tidak akan dirasakan langsung oleh konsumen.

Banyak pihak mengingatkan formalin juga memiliki sifat karsinogen atau dapat menyebabkan kanker.Tetapi kemunculan kanker akibat bahan berbahaya ini dengan kanker dari penyebab yang lain hampir sulit dibedakan, keduanya membutuhkan waktu panjang untuk menyerang tubuh manusia.

Isu kandungan formalin dalam berbagai produk makanan mendapat tanggapan serius dari pemerintah, karena dalam jangka panjang dapat memicu terjadinya kanker. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sampai kadar tertentu, formalin diizinkan untuk pengawet kosmetik, yaitu untuk pasta gigi maksimum 0,1% dan untuk produk kosmetik lainnya 0,2%. Ketentuan ini sesuai dengan aturan yang berlaku secara internasional seperti ASEAN Cosmetic Directive, European Union Directive, dan SK BPOM untuk kosmetik.

Manfaat dan Kegunaan Formalin

Formalin selain harganya murah, mudah didapat dan pemakaiannya pun tidak sulit sehingga sangat diminati sebagai pengawet oleh produsen pangan yang tidak bertanggung jawab. Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk pangan menggunakan formalin sebagai pengawet.

Anjuran penggunaan formalin yang benar adalah:
•    sebagai pembunuh kuman, sehingga banyak dipakai dalam pembersih lantai, pakaian, kapal dan gudang,
•    pembasmi lalat dan serangga lainnya,
•    salah satu bahan dalam pembuatan sutera buatan, zat pewarna cermin kaca dan bahan peledak,
•    pengeras lapisan gelatin dan kertas foto,
•    bahan pembuatan pupuk urea, parfum, pengeras kuku dan pengawet produk kosmetik,
•    pencegah korosi pada sumur minyak,
•    bahan untuk insulasi busa, dan,
•    bahan perekat kayu lapis.

Dalam konsentrasi kurang dari 1%, formalin digunakan sebagai pengawet dalam pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, sampo mobil, lilin, dan karpet.

Bahaya Formalin bagi Kesehatan

Kasus pemakaian formalin pada tahu, ikan segar, ikan asin, dan produk makanan lainnya menunjukkan kurangnya pengetahuan produsen serta minimnya sosialisasi kepada masyarakat mengenai manfaat dan bahaya bahan aditif. Formalin tidak diperkenankan ada dalam makanan maupun minuman, karena dalam jangka panjang dapat memicu perkembangan sel-sel kanker. Formalin sangat berbahaya jika terhirup, tertelan atau mengenai kulit karena dapat mengakibatkan iritasi pada saluran pernapasan, reaksi alergi serta luka bakar.



Bahaya Jangka Pendek (Akut)
1.    Bila terhirup dapat menimbulkan iritasi, kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan, hidung, dan tenggorokan. Tanda-tanda lainnya adalah bersin, batuk-batuk, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
2.    Bila terkena kulit akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa, dan terbakar.
3.    Bila terkena mata dapat menimbulkan iritasi sehingga mata memerah, sakit, gatal-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat sehingga lensa mata rusak.
4.    Bila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, atau tidak sadar hingga koma. Selain itu juga terjadi kerusakan pada hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat, dan ginjal.

Bahaya Jangka Panjang (Kronis)
1.    Bila terhirup dalam jangka lama akan menimbulkan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal, dan sensitasi pada paru. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang, gangguan haid dan kemandulan pada perempuan, serta kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
2.    Bila terkena kulit akan terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan radang kulit yang menimbulkan gelembung.
3.    Bila terkena mata dapat menyebabkan radang selaput mata.
4.    Bila tertelan dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan, dan rasa gatal di dada.

Dampak Buruk Formalin bagi Tubuh Manusia
•    Kulit : Iritatif, kulit kemerahan, kulit seperti terbakar, alergi kulit.
•    Mata : Iritatif, mata merah dan berair, kebutaan.
•    Hidung : Mimisan.
•    Saluran Pernapasan : Sesak napas, suara serak, batuk kronis, sakit tenggorokan.
•    Saluran Pencernaan : Iritasi lambung, mual muntah, mules.
•    Hati : Kerusakan hati.
•    Paru-paru : Radang paru-paru karena zat kimia (pneumonitis).
•    Saraf : Sakit kepala, lemas, susah tidur, sensitif, sukar konsentrasi, mudah lupa.
•    Ginjal : Kerusakan ginjal.
•    Organ Reproduksi : Kerusakan testis, ovarium, gangguan menstruasi, infertilitas sekunder.

Ciri-ciri Makanan yang Mengandung Formalin
Agar tidak tertipu, masyarakat sebaiknya berhati-hati dan memerhatikan ciri-ciri serta perbedaan antara bahan pangan segar dan yang mengandung bahan pengawet formalin. Para pedagang biasanya membubuhi formalin dengan kadar minimal, sehingga konsumen pada umumnya bingung ketika harus membedakannya dengan bahan pangan segar. Pada daging ayam misalnya, karena hanya dibubuhi sedikit formalin, bau obat tidak tercium. Kalau ayam berformalin, ciri yang paling mencolok adalah tidak ada lalat yang mau hinggap. Jika kadar formalinnya banyak, ayam agak sedikit tegang (kaku). Yang paling jelas adalah jika daging ayam dimasukkan ke dalam reagen atau diuji laboratorium, nanti akan muncul gelembung gas.
Tahu berformalin tahan lama dan tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25°C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 °C). Tahu terasa membal atau kenyal jika ditekan namun tidak padat. Bau agak mengengat berbau formalin (dengan kandungan formalin sekitar 0.5-1ppm). Sedangkan tahu tanpa pengawet paling-paling hanya tahan dua dan biasanya mudah hancur Anonimous 2005a).
Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin adalah tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25°C), warna insang merah tua dan tidak cemerlang bukan merah segar, warna daging ikan putih bersih, sisik-sisiknya mengkilat dan dagingnya kenyal. Sedangkan ciri-ciri ikan asin yang mengandung formalin adalah tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25°C), bersih cerah, tidak berbau khas ikan asin dan tidak ada lalat yang hinggap (Pipit 2005).
Toksisitas Formalin
Dampak negatif formalin adalah sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Efek jangka pendeknya antara lain berupa iritasi pada saluran nafas, alergi, kemerahan, mata berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing (Anonimous 2005c).
Jika terpapar secara terus menerus dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan iritasi yang parah, mata berair, gangguan pada pencernaan, hati, ginjal, pankreas, jantung, limpa, otak, sistem saraf pusat, menstruasi dan pada hewan percobaan dapat menyebabkan kanker (Anonimous 2005e), sedangkan pada manusia (Hauptmann et al. 2003) diduga bersifat karsinogen (menyebabkan kanker).
Hauptmann et al. (2003), dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemaparan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama pada karyawan yang bekerja pada perusahaan yang menggunakan formalin berpotensi menimbulkan penyakit leukimia dan menyebabkan kematian.
Uji Formalin Dalam Makanan
Secara kualitatif uji formalin dalam makanan dapat dilakukan dalam waktu yang relatif cepat, yaitu dengan prinsip ada tidaknya reaksi formalin dengan larutan brom dan H2SO4 (1:1), bila terjadi reaksi atau hasilnya positif maka akan menghasilkan warna ungu. Sebelumnya makanan yang akan di uji harus diekstraksi terlebih dahulu (Jacob 1958 dalam Winarno 2004).
Chitosan Bahan Alami Pengganti Formalin
Anonimous (2006c) menyatakan bahwa para ilmuwan dari Departemen Teknologi Hasil Perairan (THP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK-IPB), telah melakukan riset dan menemukan bahan alami pengganti formalin, khususnya pada produk-produk perikanan, seperti ikan asin.Salah satu produk tersebut adalah chitosan. Chitosan merupakan produk turunan dari polimer chitin, yakni produk samping (limbah) dari pengolahan industri perikanan, khususnya udang dan rajungan yang selanjutnya melalui berbagai macam proses. Karakteristik fisiko-kimia chitosan berwarna putih dan berbentuk kristal, dapat larut dalam larutan asam organik seperti asam asetat, tetapi tidak larut dalam pelarut organik lainnya.
Beberapa indikator parameter daya awet hasil pengujian antara lain pertama, pada keefektifan dalam mengurangi jumlah lalat yang hinggap, dimana pada konsentrasi chitosan 1,5 persen, dapat mengurangi jumlah lalat secara signifikan. Kedua, pada keunggulan dalam uji mutu penampakan dan rasa, dimana hasil riset menunjukkan penampakan ikan asin dengan coating chitosan lebih baik bila dibandingkan dengan ikan asin kontrol tanpa formalin dan dengan formalin.
Indikator ketiga, adalah pada keefektifan dalam menghambat pertumbuhan bakteri, dimana nilai TPC (bakteri) sampai pada minggu kedelapan perlakuan, pelapisan chitosan masih sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) ikan asin, yakni dibawah 1 x 10 pangkat lima (100 ribu koloni per gram). Hal itulah yang menyebabkan daya simpan ikan asin yang diberikan perlakuan chitosan bisa bertahan sampai tiga bulan dibanding dengan ikan asin dengan penggaraman biasa yang hanya bisa bertahan sampai dua bulan.
Sedangkan indikator terakhir atau keempat, yakni pada kadar air, di mana perlakuan dengan pelapisan chitosan sampai delapan minggu menunjukkan kemampuan chitosan dalam mengikat air, karena sifat hidrofobik, sehingga dengan sifat ini akan menjadi daya tarik para pengolah ikan asin dalam aspek ekonomis.

Menghindari Produk Berformalin

Keberadaan formaldehida sendiri ada dalam berbagai macam produk. Formaldehida juga ditemukan pada asap rokok dan udara yang tercemar asap kendaraan bermotor. Selain itu bisa didapat juga pada produk-produk termasuk antiseptik, obat, cairan pencuci piring, pelembut cucian, perawatan sepatu, pembersih karpet dan bahan adhesif. Formaldehida juga ada dalam kayu lapis terutama bila masih baru. Kadar formaldehida akan turun seiring berjalannya waktu.

Formaldehida secara natural sudah ada dalam bahan makanan mentah dalam kisaran 1 mg per kg hingga 90 mg per kg.

Deteksi formalin secara akurat baik secara kualitatif maupun kuantitatif hanya dapat dilakukan di laboratorium. Namun demikian, untuk menghindarkan terjadinya keracunan, masyarakat harus dapat membedakan bahan/produk makanan yang mengandung formalin dan yang sehat. Beberapa ciri produk berformalin antara lain:
Ikan asin:
•    Tahan lama pada suhu kamar (25oC), lebih dari 1 bulan.
•    Warna bersih dan cerah (tidak kuning kecoklatan).
•    Tekstur keras, tidak berbau khas ikan asin dan tidak mudah hancur.
•    Tidak dihinggapi lalat. Ikan basah/udang.
•    Insang berwarna merah tua dan tidak cemerlang.
•    Warna putih bersih dengan tekstur yang kenyal.
•    Awet sampai 3 hari pada suhu kamar, tidak mudah busuk dan bau.

Ayam potong:
•    Warna putih bersih.
•    Awet dan tidak mudah busuk.

Tahu mentah:
•    Tekstur kenyal, tidak padat tetapi tidak mudah hancur.
•    Awet sampai 3 hari pada suhu kamar, tahan sampai 15 hari dalam lemari es.
•    Aroma menyengat bau formalin (kadar 0,5-1,0 ppm).

Mi basah:
•    Mengkilat, tidak lengket dan sangat berminyak.
•    Awet sampai 2 hari pada suhu kamar, tahan sampai 15 hari dalam lemari es.
•    Aroma menyengat (tidak berbau mi) dan tidak mudah basi.

Bakso:
•    Tidak rusak selama 5 hari pada suhu kamar.
•    Tekstur sangat kenyal.

Bahaya penggunaan formalin dalam produk makanan bagi kesehatan tidak dapat dirasakan secara langsung. Namun, penggunaan dalam kurun waktu lama sangat mengkhawatirkan. Selain tahu, mi basah, ikan segar dan produk lainnya, masih banyak produk yang menggunakan formalin sebagai pengawet.

Pengungkapan makanan berformalin harus ditindak lanjuti dengan penegakan hukum agar masyarakat betul-betul dapat menikmati makanan yang bebas dari bahan-bahan pengawet berbahaya.

Sanksi Hukum dan Undang-undang Perlindungan Konsumen
Tidak ada sanksi apa pun yang bisa dijatuhkan pemerintah secara langsung kepada perusahaan yang terbukti menggunakan formalin untuk makanan. Jika suatu jenis makanan diketahui mengandung formalin, maka produsennya lebih dulu diberi peringatan. Apabila produsen telah diberi peringatan tiga kali namun tidak mengindahkan, barulah kasusnya diproses secara hukum.
Salah satu kendala proses hukum produsen pengguna formalin adalah dampaknya yang tidak langsung. Kendala lainnya, produsen makanan rumah tangga terdaftar dan tidak terdaftar jumlahnya ribuan, sedangkan aparat pengawas jumlahnya terbatas. Dasar hukum yang melarang penggunaan formalin di antaranya UU No 7/1996 tentang Pangan di antaranya termasuk penggunaan bahan yang dilarang dipakai sebagai bahan tambahan pangan seperti formalin, pelakunya diancam hukuman penjara maksimal lima tahun dan atau denda paling banyak Rp 600 juta, serta UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Alternatif Penanggulangan
Dari berbagai parameter mutu pangan, keamanan pangan merupakan parameter terpenting. Untuk menghindari penggunaan formalin dalam pangan atau bahan lain yang sama atau lebih berbahaya bagi kesehatan manusia maka perlu suatu tindakan untuk mengatasinya. Berikut beberapa saran untuk mengatasi masalah tersebut menurut Winarno (2004) :
1. Upaya mempersiapkan perangkat hukum, berikut perangkat pendukung beserta peraturan dan petunjuk pelaksanaanya.
2. Perlu dikembangkan suatu upaya pendidikan produsen, pedagang maupun konsumen mengenai keamanan pangan.
3. Membatasi penjualan bahan-bahan kimia seperti formalin yang beredar bebas dipasaran.
Contoh Pemeriksaan
Telah dilakukan penelitian tentang Uji Formalin Ikan Teri (Stolephorus sp) Olahan Di Beberapa Pasar Kota Payakumbuh Dan Kabupaten 50 Kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan ada atau tidaknya pemberian formalin pada ikan Teri (Stolephorus sp) olahan yang dipasarkan di Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2008 di Laboratorium Dasar Kimia Universitas Bung Hatta Padang.

Pada penelitian ini bahan yang digunakan adalah ikan Teri (Stolephorus sp) yang diambil dari 3 pasar yaitu pasar Ibuh, pasar Dangung-dangung dan pasar Limbanang. Bahan kimia yang digunakan dalam uji kualitatif formalin adalah 2.4-DNPH, Tollens dan Fehling.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, sedangkan penentuan lokasi dan sampel adalah secara purposive sampling. Sampel diambil dari 3 orang pedagang berbeda yang terdapat yang terdapat di 3 pasar tersebut.

Pengambilan sampel dilakukan selama 3 hari pada jam yang sama (pukul 09.00 – 10.00) kemudian sampel diuji secara kualitatif di Laboratorium Dasar Kimia Universitas Bung Hatta Padang dan untuk melengkapi data dilakukan uji organoleptik terhadap rupa, warna, bau, tekstur daging dan jamur. Uji organoleptik dilakukan berdasarkan score sheet uji organoleptik ikan asin dengan panelis yang berjumlah 25 orang yang telah diberi penjelasan terlebih dahulu dimana nilai tertinggi adalah 5 dan yang terendah adalah 1.
Dari hasil pengujian formalin secara kualitatif dapat diketahui bahwa ikan Teri (Stolephorus sp) olahan yang dijual di pasar Ibuh, pasar Dangung-dangung dan pasar Limbanang semuanya positif mengandung formalin. Berdasarkan analisa organoleptik diketahui bahwa : nilai rupa dari ikan Teri (Stolephorus sp) olahan berkisar antara 3,45 – 3,59, nilai warna berkisar antara 4,36 – 4,55, nilai bau berkisar antara 3,79 – 3,85, nilai tekstur daging berkisar antara 3,55 – 3,71 dan jamurnya tidak ada (tidak tampak)

Kesimpulan
Penggunaan formalin sebagai pengawet makanan yang banyak digunakan produsen bahan makanan di Indonesia sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Para produsen maupun pedagang yang menggunakan formalin sebagai bahan pengawet menginginkan keuntungan sebesar-besarnya dengan menekan biaya produksi melalui bahan pengawet tanpa memikirkan dampak yang muncul. Namun demikian saat ini penegakan hukum di bidang pangan masih lemah dan tidak tegas, serta sanksi hukum yang dijatuhkan kepada pelakunya juga terlalu ringan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar